Menjadi “Seperti” Bapak
Membaca dua berita hari ini di Jawap Pos, saya terasa tersentuh dan teringat kembali kesalahan dan dosa-dosa masa lalu. Pertama tulisan dari Mohammad Ilham salah satu wartawan Jawa Pos yang menulis tentang cerita masa kecil Jose Mourinho atau yang lebih di kenal dengan the Special One. Dan berita tentang Zhu Chunxie, seorang ayah yang rela menjual rumah, perusahaan dan semua asetnya di tiongkok untuk menyenangkan putri semata wayangnya.
Dua cerita yang saya baca di atas, meneguhkan kembali bahwa peran seorang Bapak – saya lebih memilih istilah bapak dari pada ayah- terhadap perkembangan anaknya. Dimana Jose Mourinho menjadi pelatih terkenal dengan berbagai prestasinya saat ini tidak lepas dari peran ayahnya. Yang dalam kehidupan kecil nya dia diberikan pelajaran berharga oleh sang ayah.
Cerita kedua, bagaiman kenekatan Zhu Chunxie demi kesenangan anaknya rela melepaskan dan menjual semua asetnya demi terus bisa membahagiakan si putri tercinta dengan berkelilimng dunia selama lima tahun.
Terlepas dari pro-kontra yang ada, saya yang juga seorang anak dan juga bapak, merasakan betul bagaimana peran bapak terhadap perkembangan psikologi si anak.
Masih sangat melekat dalam fikiran saya, kehidupan kecil saya bersama keluarga yang sederhana tapi penuh bahagia. Pernah saya mendengar cerita dari bapak, bahwa kentika beliau menikah, beliau hanya punya uang lima ribu rupiah saja, tapi beliau berani meminang ibu saya. Bagaimana beliau juga banting tulang demi menghidupi saya dan ibu saya dengan bekerja sebagai tukang kayu, tukang pembuat kursi, tukang kuli, hingga beliau memutuskan pergi ke Surabaya demi cita-cita mendapatkan penghasilan yang layak. Tapi tak laam beliau bekerja di sana, bapak memutuskan berhenti karena di fitnah mencuri perak si juragan. Dengan hanya modal kejujuran beliau berkata yang sebenarnya sampai harus melepas semua pakaian di tubuhnya demi meyakinkan bahwa bapak saya bukanlah pencuri. Protes itu bapak lakukan karena semata-mata demi kebenaran. Karena peristiwa itu beliau memutuskan untuk berhenti dan kembali lagi ke desa bekerja seadanya.
Pikiran saya kembali bergelantungan, seakan-akan cerita bapak masa lalu kembali memanggil-manggil kehidupan “kebapakan” saya saat ini. Walaupun kami hidup serba kekurangan tapi saya beruntung memiliki seorang bapak yang selalu menjadi motivator bagi saya. Selalu menjadi pelindung dalam setiap ketakutan. Iya benar, budaya dulu jika anak kecil tidak tidur-tidur hingga larut malam, maka biasanya orang tua menakut-nakutinya. Dan di saat takut itulah, dekapan kehangatan dan kedamaian bapak berikan kepada saya, tak lama kemudian anak kecilnya tertidur pulas dalam dekapan sang Bapak.
Kalaupun ada orang yang suka membentak dan memukul ataupun mencubit kita waktu kecil, hanya bapaklah yang hanya sekali saja memarahi saya. Iya hanya sekali. Sekali seumur hidup saja. Itupun hanya karena masalah sepele. Dimana saat itu keluarga saya tidak punya kulkas atau lemari es. Karena sangking kepinginya saya minum minuman yang manis tapi dari es, saya kecil dengan lugunya minta agar teman tetangga saya mau menerima minuman cair saya untuk dimasukan ke kulkasnya agar nnt bisa menjadi dan saya bisa minum. Ya sederhana. Memang sederhana. Tapi ternyata itu yang membuat bapak saya marah. Saya tidak faham kenapa beliau begitu marah. Saya di cubitnya. Saya dipukul. Saya pun menangis sejadi-jadinya. Ternyata beliau sangat malu dengan apa yang saya lakukan. Malu dengan tindakan keluguan saya. Malu belum bisa memberikan “fasilitas” yang memadai buat anaknya. Ternyata sedemikian halusnya hati bapak saya. Sebenarnya bukan hanya kulkas yang tidak kami miliki, hampir semua peralatan elektronik tidak punya. Hanya radio tua yang menemani keluarga kami dengan mendengarkan cerita-cerita kuno dari radio.
Karena kehidupan bapak dan keluarga tidak berubah, akhirnya beliau memutuskan untuk bekerja di pulau seberang. Ya, pulau bali menjadi tujuan bapak saya tepatnya di Singaraja. Dan dimulailah kehidupan baru saya. Dimana ketika harus menginjakkan usia sekolah, mulai saat itulah saat jarang sekali melihat sosok seorang bapak. Saya hanya bisa melihat wajahnya tiga bulan sekali. Itupun hanya satu atau dua hari saja. Kehidupan kecil saya, saya habiskan dengan ibu saya.
Karena keinginan bapak untuk lebih meningkatkan kehidupan keluarga kami, beliaupun memutuskan untuk pindah tempat dari Singaraja ke Denpasar. Dan saat itu aku sudah memiliki adik perempuan. Dan saya pun harus tinggal “sendirian” di desa, karena bapak , ibu dan adik saya tinggal di Bali.
Bertahun-tahun lamanya saya menjalani kehidupan “tanpa” Bapak di sisi saya setiap hari, hingga suatu waktu saya sadar. Saya belum tahu, siapa nama bapaknya saya. Peristiwa ini terjadi saat saya kelas lima, di penghujung semester mau kenaikan kelas pihak sekolah memberikan formulir untuk mendata anak-anak yang naik kelas enam dan akan di ikutkan ujian nasional. Salah satu kolom fotmulir itu, berbunyi”Nama Bapak/Ibu”. Spontan saya mengisi dengan “ Nama Bapak : Bapak”. Tanpa berfikir panjang say kumpulkan. Tapi selang beberapa hari saya di panggil sama pihak sekolah. Mereka bertanya “ siapa nama bapaknya, ini kok salah ngisinya”. Saya kecil dengan lugu menjawab, “nama bapak saya, yaaa bapak”. Akhirnya pihak sekolah menjelaskan keluguan dan ketidakmudengan saya tadi. Dan saat itu juga saya sadar, saya belum mengenal siapa nama bapak saya. Karena memang, jujur, saya belum pernah memanggil namanya. Saya hanya mengenal lelaki hebat itu dengan sebutan “BAPAK”. Iya, hanya bapak.
Kehidupan inilah yang menerpa dan menemani perjalanan hidup saya. Keteguhan hati bapak saya. Ketulusan hati bapak saya, yang membuat saya kuat menghadapi dan menjalani berbagai persoalan kehidupan ini. Beliau adalah sosok yang penuh kasih sayang, walaupun beliau tidak pernah menyatkannya, tapi mata hati saya melihat dan merasakan kedalaman cintanya.
Bahkan hampir disetiap langkah kehidupan saya, disana ada doa dan harapannya. Bahkan ketika harus mondok dan sekolahpun, beliau semua yang menuntun saya. Walaupun sebenranya saya tahu, beliau kurang faham dengan dunia pondok dan dunia pendidikan. Tapi kecintaannya melebihi itu semua. Dari sinilah sosok bapak yang tidak akan tergantikan dalam hidup saya. Sosok yang terus dan selalu menemani anaknya dalam menghadapi kesulitan. Sosok yang selalu menjadi motivator dan jalan keluar dari permasalan anaknya.
Bahkan hingga saat ini saya masih terus dan selalu merasakan kehadirannya, walau tidak setiap hari saya bisa memandang keriput kulit tuanya. Tapi hati dan cita-citanya selalu hadir dalam setiap langkah kehidupan anaknya.
Dan kini saya pun telah menjadi seorang bapak – lagi-lagi saya lebih senang di panggil bapak dari pada ayah- dari satu anak. Saya pun merasakan bagaimana dulu bapak saya mendidik saya dengan cinta, maka hari ini saya takut dan khawatir saya tidak bisa mencontohnya. Karena sosok bapak bagi seorang anak adalah pahlawan. dia adalah teman bermain yang menyenangkan. Karena hari ini, saya harus jauh dari anak tercinta saya. Saya kahwatir dia kehilangan sosok bapak. Saya khawatir dia kehilangan sosok pahlawan dalam hidupnya. Saya khawatir dia kehilangan teman bermain di masa kecilnya.
Kekhawatiran-kekahwatiran itulah, yang setiap hari berteriak-teriak dalam tidur dan hening malam saya. Karena suatu tugas dan amanah negara, saya harus melakukan ini. Tapi, saya berjanji jika tugas ini hanya menjadi penghalang maka saya tidak takut untuk melapaskannya, demi anak saya, yang lebih saya cintai dan lebih saya khawatirkan dia kehilangan sosok Bapaknya.
Maka bagi siapaun anda yang menjadi bapak, ketahuilah, anak anda lebih membutuhkan anda dari pada harta. Anak anda lebih senang kehadiran anda dari pada mainannya. Anak anda lebih tenang dekapan ayahnya dari pada pembantunya. Dan anak anda adalah cerminan masa tua anda. Nantinya. Suatu hari.
Untuk bapak saya,
Bapak doakanlah anakmu agar bisa menjadi seorang bapak sepertimu, yang kuat pendiriannya, yang dalam cintanya, yang tak terbatas kasih sayangnya kepada ankanya.
Untuk anakku,
Anakkku, bapak mohon maaf tidak bisa menemani setiap waktu. Jika itu menjadi kesalahan terbesar bapak, bapak siap melepas pekerjaan bapak hari, jika itu yang kau inginkan, anakku.
Apalah guna harta yang melimpah. Apalah guna jabatan yang tinggi. Apalah guna kemewahan rumah dan kendaraan. Jika anakmu tak mendapat hak dari cinta dan kasihsayangmu.
MENITI JALAN KEISTIQOMAHAN DAN KEIHKLASAN
Selasa, 03 November 2015
Senin, 17 Agustus 2015
Pulang
Pulang. Satu kata ini jadi buat saya binggung. Kalo artinya
sih gampang dan simpel. Habis pergi terus pulang. Pulang ke rumah. Rumah!. Iya rumah.
Nah di sinilah saya bingungnya. Rotasi hidup saya kali ini. Seru bahkan penuh
tanya jawab. Menjawab apa, ya menjawab pertanyaan kata pulang itu.
Umumnya, pulang itu pulang ke rumah. Kalo pas hari raya
istilahnya mudik. Mudik ke kampung halaman. Kampung halaman itu tempat kita
lahir. Atau tempat dimana keluarga kita pertama kali tinggal. Atau tempat
dimana banyak keluarga kita.
Nah saat ini, saya bingung ketika ditanya, mau kemana. Mau pulang?
Ia, saya mau pulang. Tapi pertayaan selanjutnya, pulang kemana? Saat ini ada 5
tempat dimana saya mengistilahkan pulang.
Pertama, ke Lumajang. Tempat saya di lahirkan dan melewati
masa-masa kecil yang indah. Tempat bermain dan tempat kenangan
kenakalan-kenakalan kecil. Tempat yang tidak terlupakan. Nah, ketika ke
Lumajang say juga bilang, mau pulan ke Lumajang. Karena di situlah saya di
lahirkan.
Ke dua, ke Bali. Kok bali. Iya, sebab sejak kecil ortu sudah
kerja di sana. Mengais rizki dan meninggalkan kampung halaman sejak tahun
1987an. Dan umur saya masih 2 tahunan. Dan saat ini, ortu sudah jadi warga
Bali, khususnya wilayah Denpasar Sanur. Yang sebelumnya sudah pindah
berkali-kali, mulai dari Singaraja hingga Bringkit-Kediri Tabanan. Dan, KTP
saya pun ikut ortu. Keren dikit lah. KTP Bali.
Ketiga, Malang. Ia, di kota inilah, kedewasaan berfikir saya
di mulai. Menemui hal-hal dan pengalaman baru. Disini saya pertama kuliah
hingga menyelesaikan S2 saya, bahka menemukan damba an dan pujaan hati, wanita
yang saya sangat cintai. Dan sekarang menjadi istri saya. Bersama si kecil yang
nggemesin dan ngangenin. Mereka berdua sekarang masih di kota apel itu.
Ke empat, Metro Lampung. Wiiiih... jauh... ia, Metro adalah
tempat ijab qobul pernikahan saya. Tempat bersejarah dan tempat paling berkesan
dalam perjalanan hidup saya. Walau jauh, tapi terasa dekat karena di sana lah
keluarga istri saya tinggal.
Ke lima, Jember. Inilah tempat terakhir (sementara) dalam
perjalanan hidup ini, yang saya bilang pulang. Kenapa demikian, karena saat
inilah saya mengais rizki di kota ini. Tempat yang memisahkan saya dengan
mereka yang terkasih. Jauh dari orang-orang tercinta. Tempat saya memulai
kembali dari awal, karir pekerjaan sebagai seorang dosen. Pekerjaan yang tidak
pernah saya bayangkan, bahakn hatus jadi Abdi negara tercinta Indonesia.
Inilah 5 tempat, yang semua saya bilang, Pulang. Karena
di tempat-tempat itulah saya mencoba menjadi hamba yang taat, menjadi suami
yang bertanggung jawab, menjadi anak yang berbakti, menjadi menantu yang
membanggakan dan menjadi abdi negara yang tertib dan teratur.
Langganan:
Postingan (Atom)